Menulis Cerpen Sejarah: Perhatikan 5 Hal Berikut Ini!

Menulis Cerpen Sejarah: Perhatikan 5 Hal Berikut Ini!

Cerpen adalah salah satu bentuk karya sastra prosa yang terkenal. Edgar Allan Poe disebut sebagai penulis yang pertama kali menentukan prinsip-prinsip sebuah cerpen modern. Kamu bisa membaca tentang cerpen selengkapnya di sini. Menulis cerpen sejarah bisa menjadi tantangan untuk seorang penulis.

Menulis Cerpen Sejarah: Perhatikan Hal-Hal Berikut Ini!

Mengapa menulis cerpen sejarah dianggap sebagai tantangan? Menulis cerpen sejarah akan lebih mudah jika kamu menyukai satu peristiwa sejarah. Selain itu, cerpen sejarah dapat memberikan informasi tersendiri kepada pembaca cerpen.

Namun, jumlah kata dalam cerpen bisa jadi menjadi tantangan karena kamu harus bisa mengemas bagaimana peristiwa sejarah tersebut dapat diceritakan dengan spesifik dan tidak terlalu bertele-tele serta menarik untuk pembaca.

Jika kamu ingin mengambil tema sejarah, kamu harus memperhatikan hal-hal berikut ini sebelum menulis cerpen sejarah kamu.

1. Lakukan Riset

Sebelum menulis cerpen sejarah, kamu perlu melakukan riset tentang latar belakang cerita. Riset ini diperlukan untuk mendapatkan akar permasalahan cerita berdasarkan sumber-sumber akurat karena cerpen sejarah mengandung informasi yang diperlukan pembaca.

Dengan riset, cerpen kamu dapat lebih menarik bagi pembaca. Semakin realistis berdasarkan akar sejarah yang terjadi sesungguhkan, maka cerpen akan semakin menarik. Jangan lupa untuk memberikan detail-detail kecil informasi dari riset kamu.

2. Hindari Informasi yang Berlebihan

Setelah banyak melakukan riset, pasti kamu akan mempunyai banyak informasi yang ingin dibagikan kepada pembaca. Jangan memberikan informasi terlalu banyak di awal cerita. Biarkan informasi muncul secara alami sesuai dengan alurnya.

Kamu juga bisa memilah setiap penjelasan sejarah yang penting dan menyajikan informasi tersebut melalui dialog antar tokoh, apa yang dipikirkan karakter, atau narasi yang kamu ceritakan secara eksplisit.

Namun jika kamu memilih menggunakan narasi, sebaiknya kamu tidak menggambarkan sesuatu dengan terlalu rinci. Biarkan pembaca menginterpretasikan kejadian dengan imajinasinya sendiri.

3. Gunakan Latar Sebagai Akar Konflik

Latar cerita menjadi hal yang paling penting. Jika kamu menuliskan tentang sejarah kerajaan yang sudah berdiri berabad-abad lalu, maka kamu harus menyesuaikan konflik berdasarkan latarnya. Latar bisa berkaitan dengan waktu, budaya, sosial, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang ada di masa peristiwa sejarah tersebut.

Contohnya, jika kamu membuat cerpen sejarah bertema romansa yang berkisah tentang prajurit dan putri raja, kamu bisa mempertimbang konflik apa yang cocok dengan latar kerajaan di masa lampau. Misalnya, tentang hubungan yang terhalang restu dari sang raja atau kisah tragis prajurit yang gugur di pertempuran.

4. Ceritakan dalam Sudut Pandang yang Berbeda

Kamu bisa mengambil dari peristiwa sejarah yang sangat familiar untuk menjadi latar belakang cerpen kamu. Menulis cerpen sejarah tidak sekadar menuliskan kembali peristiwa sejarah yang telah terjadi. Namun, agar semakin menarik kamu bisa menceritakannya dalam sudut pandang yang berbeda dari penulis lain yang sudah menuliskannya.

Contohnya, jika kamu ingin menceritakan Kerajaan Majapahit, biasanya penulis akan menceritakan Raden Wijaya sebagai protagonis. Namun, kamu juga bisa mempertimbangkan menceritakan sisi lain Raden Wijaya yang bersifat tidak kesatria karena ia memanfaatkan tentara Mongol untuk menghancurkan Kerajaan Kediri.

Jika kamu memilih peristiwa sejarah yang belum dikenal oleh masyarakat luas. Kamu bisa mencantumkan keterangan tempat dan waktu kejadian. Hal ini penting dilakukan untuk membuat pembaca familiar dengan peritiwa tersebut.

5. Gunakan Dialog yang Mudah Dimengerti Pembaca

Menggunakan bahasa yang lugas dan tidak berbelit-belit akan lebih bisa dinikmati oleh pembaca. Menggunakan dialog native atau menggunakan bahasa daerah dapat memberikan kesan orisinil dalam cerita.

Namun, tidak semua pembaca akan dapat mengerti arti dari dialog tersebut. Contohnya kamu menuliskan cerpen sejarah yang berlatar di Jawa Timur, maka kamu akan menggunakan dialog berbahasa Jawa.

Untuk mengatasi hal tersebut, kamu bisa menuliskan terjemahannya pada footer halaman agar pembaca dapat mengerti artinya. Jika seluruh halaman footer berisi terjemahan, tentu saja hal itu tidak nyaman untuk dibaca.

Solusinya adalah kamu bisa menggunakan dialog berbahasa daerah di bagian tertentu saja. Misalnya pada panggilan, seruan, dan makian.

Kesimpulannya adalah cerpen sejarah merupakan cerita yang menggabungkan unsur latar, peristiwa sejarah, dan elemen fiksi. Namun, konflik utama dari cerpen sejarah haruslah berasal dari latar asli peristiwa sejarah. Dalam menulisnya kamu perlu memperhatikan hal-hal yang sudah dibahas tadi. Selamat mencoba!

Tinggalkan Komentar