
Bahasa Indonesia maupun bahasa nasional lainnya tentu memiliki aturan atau kaidah masing-masing dalam penulisan setiap kata. Namun sayangnya, tidak semua orang memahami terkait hal ini.
Padahal dalam dunia akademik, profesional, dan sastra, memahami bagaimana penulisan yang tepat sesuai kaidah kebahasaan yang berlaku atau KBBI dapat menunjukkan kredibilitas dan profesionalitas seseorang, termasuk penulis. Penulisan kata yang sering salah bisa menurunkan profesionalitas penulis di mata pembaca maupun penerbit.
Daftar isi
Toggle10+ Penulisan Kata yang Sering Salah Menurut KBBI atau Kaidah Kebahasaan
Dalam artikel ini akan diuraikan lebih lanjut apa saja penulisan kata yang sering salah dan bentuk yang benar sesuai kaidah kebahasaan atau KBBI. Dengan memahami topik kali ini, harapan ke depannya kamu bisa menulis secara lebih efektif dan mudah dipahami pembaca.
Artikel yang sesuai:
Apa Itu Kaidah Kebahasaan?
Sebelum mempelajari berbagai penulisan kata yang sering salah atau tidak sesuai kaidah kebahasaan, maka kamu perlu pahami lebih dulu apa itu kaidah kebahasaan. Kaidah kebahasaan adalah aturan atau ketentuan yang berlaku tentang penggunaan bahasa seperti ejaan, tata bahasa, dan penggunaan kata.
Kaidah kebahasaan membantu komunikator untuk menyampaikan pesan dengan jelas, akurat, dan konsisten sehingga mudah dipahami oleh komunikan atau lawan bicara. Baik dalam situasi resmi maupun tidak resmi, penerapan kaidah kebahasaan dalam berkomunikasi memungkinkan pesan dapat tersampaikan secara jelas dan efektif sehingga miskomunikasi atau kesalahpahaman dapat dihindari.
Apa Saja Penulisan Kata yang Sering Salah?
Berikut ini tabel yang menunjukkan berbagai macam penulisan kata yang sering salah dilengkapi dengan penulisan yang benar sesuai KBBI.
| Kata | Penulisan yang benar | Penjelasan singkat |
|---|---|---|
| Di mana vs dimana | di mana | “di” ditulis terpisah jika menunjukkan tempat atau waktu |
| Antre vs antri | antre | Penulisan yang baku sesuai KBBI ialah antre, yang artinya berdiri berderet-deret memanjang menunggu mendapatkan giliran. |
| Sekadar vs sekedar | sekadar | Tidak ditemukan kata dasar “kedar” pada KBBI, yang ada adalah “kadar” sehingga penulisan yang benar ialah “sekadar“. |
| Apotik vs apotek | apotek | Dalam KBBI tercantum “apotek” bukan “apotik“. |
| Praktik vs praktek | praktik | Berasal dari kata serapan dalam bahasa Inggris “practice“. Yang mana, setiap kata serapan berakhiran –ic maka jika diubah ke dalam bahasa Indonesia yang benar menjadi akhiran -ik. |
| Teknik vs tehnik | teknik | Yang tercantum dalam KBBI adalah “teknik”. |
| Tanggung jawab vs tanggungjawab | tanggung jawab | Terdiri dari dua kata utuh sehingga penulisan yang benar dipisah. |
| Aktivitas vs aktifitas | aktivitas | Berasal dari kata serapan bahasa Inggris “activity” sehingga diubah ke dalam bahasa Indonesia yang benar menjadi “aktivitas“. |
| Produktifitas vs produktivitas | produktivitas | Berasal dari kata serapan bahasa Inggris “productivity” sehingga diubah ke dalam bahasa Indonesia yang benar menjadi “produktivitas“. |
| Izin vs ijin | izin | Yang tercantum dalam KBBI ialah “izin“. |
| Berpikir vs berfikir | berpikir | Tercantum dalam KBBI “berpikir” yang berarti alat, teknik, atau cara berpikir. |
| Nasihat vs nasehat | nasihat | Yang terdapat dalam KBBI ialah “nasihat“. |
| Azas vs asas | asas | Yang terdapat dalam KBBI ialah “asas”. |
| Subyek vs subjek | subjek | Berasal dari kata serapan “subject” sehingga penulisan yang dalam bahasa Indonesia benar memakai huruf j menjadi “subjek“. |
| Analisa vs analisis | analisis | Berasal dari kata serapan Bahasa Inggris “analysis“, berakhiran –ysis yang mana jika diubah ke dalam bahasa Indonesia menjadi akhiran –sis. |
| Resiko vs risiko | risiko | Berasal dari kata serapan bahasa Inggris “risk” dan yang tercantum dalam KBBI adalah “risiko“. |
| Sholat vs salat | salat | Dalam KBBI tercantum “salat“, kata “sholat” tidak ditemukan. |
| Perduli vs peduli | peduli | Yang benar “peduli” tanpa r sesuai KBBI. |
| Silakan vs silahkan | silakan | Tidak ditemukan kata dasar “silah“, yang ada “sila” dalam KBBI. |
| Sistematis vs sistimatis | sistematis | Berasal dari kata serapan “systematic” sehingga yang penulisan dalam bahasa Indonesia benar memakai e. |
| Mengubah vs merubah | mengubah | Kata dasar “ubah” ditemukan di KBBI, sedangkan rubah sudah lain artinya, yakni berarti hewan. |
| Detail vs detil | detail | Berasal dari kata serapan “detail” sehingga memakai a. |
Nah, itulah berbagai macam penulisan kata yang sering salah. Dengan mengetahuinya, kamu bisa membuat tulisanmu enak dibaca, mudah dipahami, dan menunjukkan profesionalitas sebagai penulis.
Bagaimana Tips agar Tidak Salah Tulis?

Salah menulis suatu kata bisa mengurangi profesionalitas penulis. Maka, penting agar memahami bagaimana tips agar tidak salah tulis khususnya untuk kata-kata yang sering salah tulis seperti yang sebelumnya sudah disebutkan. Kamu bisa coba terapkan tips berikut:
1. Manfaatkan KBBI online
Selain versi cetak, KBBI juga tersedia dalam versi online atau daring, lho. Jadi, kamu bisa mengaksesnya dari mana saja dan kapan saja melalui handphone untuk mengetahui bagaimana penulisan suatu kata yang benar.
2. Rajin membaca dan menulis
Penulisan kata yang sering salah bisa disebabkan karena kita jarang melatih ketajaman otak dengan membaca dan menulis. Padahal dengan terbiasa membaca dan menulis, kamu bisa menambah tabungan kosakata dan memahami bagaimana penulisan suatu kata yang benar sesuai kaidah kebahasaan atau KBBI.
3. Pahami penulisan “di” yang dipisah dan digabung
Salah satu penulisan kata yang sering salah adalah kata “di”. Yang mana, penulisan kata “di” ada yang digabung dan ada pula yang dipisah. Kata “di” yang digabung berlaku jika kata “di” menunjukkan kata kerja pasif, sedangkan dipisah jika kata selanjutnya menunjukkan tempat, waktu, arah, atau posisi.
Sebagai contoh, kata “di rumah” benar ditulis terpisah karena “rumah” merupakan tempat. Sementara itu, kata “dimakan” benar digabung karena “makan” merupakan kata kerja.
FAQ Penulisan Kata yang Sering Salah
Berikut poin-poin yang sering ditanyakan tentang penulisan kata yang sering salah:
1. Apakah penulisan kata “di” selalu dipisah?
Tidak selalu. Untuk kata “di” yang menunjukkan kata hubung atau kata kerja pasif tidak ditulis terpisah. Misalnya, ditulis, diminum, dimasak, dimakan, dimanfaatkan, digunakan, dan lain sebagainya.
2. Apakah boleh menulis “nggak” atau “gak” di dalam artikel?
Boleh saja jika artikel tersebut dimuat di website media atau komunitas dengan tetap memperhatikan siapa pembacanya dan ketentuan dari media atau komunitas bersangkutan. Sementara untuk artikel resmi, gunakan kata “tidak”.
3. Kapan boleh menulis tidak sesuai kaidah kebahasaan?
Kamu boleh menulis tidak sesuai kaidah kebahasaan dengan melihat bagaimana situasi atau tujuan penulisan dan siapa yang dituju. Jika situasinya tidak resmi seperti komunikasi melalui chat WhatsApp dengan sesama teman maka boleh saja.
Namun, lain halnya jika tulisan ditujukan untuk dosen atau guru demi keperluan akademik, maka tulislah suatu kata sesuai kaidah kebahasaan agar nyaman dibaca dan terlihat profesional.
Itulah tadi berbagai macam penulisan kata yang sering salah dilengkapi dengan penulisan yang benar sesuai kaidah kebahasaan atau KBBI. Bagi penulis, akademisi, atau kalangan profesional lainnya, menulis sesuai kaidah kebahasaan bukan sekadar unjuk profesionalitas, melainkan juga bentuk komunikasi efektif yang membantu memudahkan pembaca dalam memahami pesan yang disampaikan.





